Tuhan , bila waktu dapat kuputar kembali.. sekali lagi untuk bersamanya, sekali lagi untuk mencintainya, sekali lagi untuk tersenyum padanya, sekali lagi untuk memeluknya, sekali lagi untuk mencium tangannya, sekali lagi untuk membuatnya bahagia.... sebelum penyesalan itu datang, sebelum air mata ini tumpah, sebelum rasa bersalah datang membayang, sebelum aku kehilangan semua, kehilangan senyumnya, kehilangan waktu untuk bersamanya, dan pada akhirnya hari ini akan jadi saat dimana aku berpijak di dunia ini dengan penuh penyesalan disaat dia telah tiada....
Malang, rabu, 25 Januari 2012
Memang benar ada pepatah berkata, penyesalan itu selalu berada di akhir sebuah cerita, disaat semua telah menjadi buruk. Aku tidak tahu kalau kebersamaan ini terasa begitu singkat dengannya, yahh dia belum melihat aku menikah, dia belum menggendong anakku, dia belum merasakan kebehagiaan dariku. Dan aku menyesal disaat-saat terakhirnya, aku sama sekali tidak disampingnya.
Sudah 21 hari dia di Malang sejak kepulangannya dari desa dan aku sama sekali tidak menjenguknya, tidak khawatir kesehatannya yang mulai rapuh beberapa waktu ini. Karena terlalu sibug dengan duniaku sendiri, merasa kalau hal-hal yang aku lakukan selama ini adalah terpenting dan prioritas utamaku. Kuliahku dan beberapa masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Bahkan sampai hari rabu 25 januari 2012, sedikitpun aku tidak merasakan apa-apa, tidak memikirkannya sama sekali. Aku berada di kelas menunggu kedatangan dosen, sampai HP ku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Suara di telfon itu, aku sudah bisa menebaknya bahwa akan ada berita buruk yang ingin disampaikan. Kakakku dengan tersedak-sedak berusaha berbicara dengan air mata yang mungkin sudah tidak bisa ditahannya, yahh dia berkata “pulang rhaa.. mbah kakung sudah meninggal”..
Tidak bisa digambarkan perasaanku saat itu. hatiku seolah dipukul keras-keras hingga hancur dan aku bingung mengambil tindakan. Di jalan menuju ke rumah duka pun aku masih terdiam, jutaan rasa bersalah dan penyesalan datang membayang, sekilas terlintas flashback masa-masa laluku dengan kakek yang sangat aku cintai. Kenapa semakin bertambah usiaku semakin aku jauh dari orang-orang yang aku sayangi? Seolah mereka dekat tapi aku masih bingung dengan urusanku sendiri.. Bodoh! Bodoh! Bodohnya aku yang tak bisa bersamanya disaat-saat terakhirnya.
Aku tahu aku harus ikhlas, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. Yang tak henti aku sesali hanya kebodohanku yang mengabaikan masa tua mereka. Aku jarang sekali mengunjungi mereka. Penuh penuh bahkan sangat dalam aku menyesali hal ini. Sesampai dirumah duka aku berlari menemuinya yang terbaring di kamar. Dan tak bisa aku tahan air mata yang mulai tumpah membanjiri pipiku, aku mencium pipinya, tangannya, membisikkan kata maaf di telinganya. Masih bisa merasakan kehangatan tubuhnya, karena memang baru 30 menit yang lalu kepergiannya, badannya masih hangat, aku lihati wajah cerahnya, walaupun dikepalanya sudah mulai di ikat tali. Aku terus menemaninya. Tak peduli orang-orang disekitarku, hanya aku tidak ingin mengalihkan padanganku darinya seperti yang selalu aku lakukan selama ini.
Sampai semua orang datang, dan jenazah harus segera disucikan. Aku tetap disampingnya dengan air mata yang tak ada hentinya. Aku memandikannya, tetap disampingnya sampai dia dikafani, disholati, dibacakan doa sampai dia di kembalikan ke tanah. Aku buang rasa takutku, aku melangkah dengan pasti mengantarkannya sampai liang lahat. Aku melihat tubuhnya digotong perlahan masuk ke liang lahat, hatiku masih penuh kedukaan, sampai bungaa-bunga menghiasi kuburnya.
Pikiranku serasa kosong, di rumah aku masih harus melihat tangisan keluarga yang tumpah dan mbah putri yang sangat terpukul dengan kepergian orang yang dicintainya. Aku diam, melihat mereka bersedih aku turut sedih, bahkan lebih terpukul. Tapi aku tak boleh terlalu larut, life must go on, kematian itu bukan akhir dari segalanya. Aku masih bisa mendoakannya setiap kali selesei sholat, aku masih punya 2 mbah putri yang menunggu untuk ku bahagiakan, ku berikan semangat, ku temani masa-masa tuanya, agar penyesalan itu tidak datang lagi, agar mungkin ketika satu per satu orang yang aku sayangi meninggalkanku, aku bisa tersenyum karena sudah memberikan mereka kebahagiaan dalam hidup ini.
Setiap ada akhir dari sebuah kisah, selalu memiliki awal dari kisah lain.. ada yang datang ada juga yang pergi. Rahasia Allah tidak pernah kita ketahui, bahkan hidup kita sendiri saja kita tidak tahu akan jadi seperti apa. Siapa jodoh kita, kapan kita akan kembali pada-Nya... kita sama sekali tidak tahu apa-apa. Kita tidak berhak menilai keputusan Allah, bahwa ketika Allah memberi kita ujian, maka Ia tahu kita mampu untuk melaluinya.. Dia Yang Maha Penyayang tidak akan membebani hambaNya, beban yang tidak mungkin bisa ditanggung hambaNya. Mungkin Allah sedang mengajariku untuk bersabar, karena itu lebih baik bagiku. Aku percaya aku bisa melewati semua ini, perlahan-lahan tapi pasti ujian ini berakhir berganti sebuah kebahagiaan. Dan terlebih semua ini mengajarkanku untuk lebih menghargai hidup, lebih menghayati peran dan keberadaan orang-orang disekitar ku yang aku sayangi.
“ Hiduplah sesukamu, tapi ingat kamu akan mati..
Lakukan apa yang kamu sukai, tapi ingat kamu akan dibalas dengan amalmu...
Cintailah apa yang ingin kamu cintai sesukamu, tapi ingat kamu akan meninggalkannya..... “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar